Rabu, Juli 13, 2011

INSIDENS VS PREVALENSI

Semasa kuliah di kesehatan masyarakat atau jurusan kesehatan lainya kerap kita menemukan istilah insiden dan prevalensi ketika mempelajari epidemiologi atau sebuah penyakit. Insiden kerap dikatan dengan kasus baru sebuah penyakit. Sedangkan prevalensi adalah kasus lama dari sebuah penyakit berikut dengan jumlah kasus barunya juga.
Misalkan pada periode agustus hingga desember diketahui prevalensi penyakit adalah 50 dengan rincian temuan kasus perbulan adalah agustus 20, September 5, oktober 5, November 10, dan desember 10. Maka insidennya adalah 30 yakni dihitung dari bulan September, oktober, November, dan desember.
Pada kenyataan di lapangan ternyata menentukan apakah suatu kasus itu termasuk insiden atau prevalens ternyata tidak semudah itu. Hal ini terkait tidak diketahuinya kapan mulai seseorang terserang penyakit dan masuk dalam pencatatan. Namun, diketahui cara mudah untuk menentukan sebuah kasus tersebut insidens atau prevalensi, yang data dilihat dari jenis penyakitnya. Untuk penyakit akut cederung kasus penyakit dikatakan sebagai insiden. Sedangkan penyakit yang berjenis kronis cenderung masuk dalam kasus lama atau prevelensi.
Mudahnya seperti ini. Bila yang terjadi adalah penyakit akut misalnya diare. Ketika penderita datang pertama kali pada hari senin ke Puskesmas maka menurut teorinya diare paling lama dialami selama 14 hari. nah jika pada hari senin ia berobat dan hari rabu ia sembuh. Kemudian ternyata senin berikutnya dia sakit lagi maka pasien ini dimasukkan ke dalam kasus baru lagi penyakit diare.
Sedangkan untuk penyakit kronik cenderung kita masukkan pasien ke kasus lama. Contohnya penyakit TBC. Bila datang pasien berobat pada bulan Juni ke puskesmas maka ia masuk insiden kasus TB pada bulan Juni dan prevalensi pada bulan Juli dan Juni. Ketika pasien ini datang lagi pada bulan Oktober maka ia tetap menjadi kasus lama TBC yang tercatat dari bulan Juni, Juli hingga oktober. Sebab kita ketahui bahwa penyakit TBC adalah penyakit kronis yang penyembuhannya memerlukan waktu yang lama.
Insiden penyakit akut bisa diketahui dengan pasti atau mendekati kepastian sebab terjadinya kesakita dapat diketahui dengan melihat waktu dan keadaan pasien ketika mengeluhkan sakit. Misalya diare tadi maka dapat diketahui bahwa sebelumnya ia meminum air mentah atau memakan makanan yang asam terlalu banyak maka kasus ditegakkan terjadi saat ia merasa sakit akibat makan makanan tersebut. bisa dikatakan penyakit akut dapat diketahui penyebabnya dengan pasti dan kajadiannya dapat diketahui degan jelas.
Sedangkan penentuan insidens untuk penyekit kronik yang sulit diketahui kapan mulai pasien merasakan sakit maka ditegakkan melalui temuam kasus pada saat pencatatanlah. Bila ditemukan pasien TBC hari ini maka hari inilah pasien TBC tersebut menjadi insiden dan cederung akan menjadi prevalensi pada pencatatan berikutnya.
Insiden digunakan untuk menentukan kejadian luar biasa. Karena temuan kasus baru yang dini bisa mendeteksi kemungkinan kejadian uar biasa pada hari-hari berikutnya. Sehingga bila diketahui banyak terdapat kasus baru sebuah penyakit maka puskesmas harus bersiapa mengahdapi dan mencegah terjadinya kejadian luar biasa tersebut.
Sedangkan prevalensi biasa digunakan untuk evaluasi pengobatan. Mengapa? Jika diketahui prevelensi panyakit TBC masih banyak bisa dikatakan pengobatan tidak efektif sebab kasus lama yang diharapkan sembuh masih saja ada.
Pencatatan Insiden dan prevelensi sangat penting untuk mengetahui kejadian sebuah penyakit dalam masyarakat. Pencatatan Insiden sebaiknya dilakukan secara proaktif ke masyarakat tanpa menunggu masyarakat mengeluhkannya atau datang ke puskesmas sehingga dapat segera dilakukan pencegahan.

Label:

diposting oleh Unknown @ Rabu, Juli 13, 2011   0 Komentar

MEMAHAMI SURVEILANS

Tidak hanya pada perkuliahan atau pelajaran kesehatan masyarakat saja istilah surveilans dikenal, tetapi juga pada bidang lainnya. Surveilans berasal dari kata survey. Arti singkatnya dalah mengumpulkan. Entah apa yang dikumpulkan itulah survey. Ketika yang dikumpulkan itu data kesehatan maka jadilah survey kesehatan.
Survey kesehatan adalah pengumpulan data kesehatan yang dilakukan pada suatu saat saja. intinya ketika dirasa perlu saja atau suatu yang mendadak dan mengaharuskan pengumpulan lagi dengan cepat. Sedangkan surveilans adalah pengumpulan secara rutin dan terus menerus. Sebenarnya tidak hanya pengumpulan yang dilakukan dalam surveilans tetapi yang perlu diingat adalah kata rutin dan terus-menenurnya itu. berarti surveilans tidak hanya dilakukan sekali tetapi berkali-kali dan selalu. Rutin dan terus menerus.
Jika terllau bingung dengan berbagai macam istilah seperti laporan rutin, pencatatan rutin, sistem informasi kesehatan. Mereka adalah istilah yang lain yang memiliki arti yang sama dengann surveilans. Sewaktu magang saya pernah bertanya kepada kepala Puskemasm saya yang kebetulan juga seorang epidemiolog kesehatan. Apa bedanya surveilans dengan laporan rutin?. Belaiu menjawab hanya pengucapannya yang berbeda. Dari situlah saya paham bahwa kedua ini adalah sama saja. Pada buku-buku yang lain juga demikian.
Prinsif yang harus kita pegang dalam memahami surveilans adalah adanya pengumpulan (Pencarian/ pencatatan), pengolahan data, menganalisis atau menginterpretasi, dan evaluasi. Ingat 4 prinsip ini saja. dalam surveilans pasti ada pengumpulan data baik pengumpulan data pasif atau aktif. Pengolahan data meliputi penyusunan, perapian, pengelompokan, menabulasi, atau pokoknya data mentah tadi diolah menjadi data yang bisa dibaca. Data ini kemudian terbaca (teriterpretasi) dan dilakukan analisis. Ada hubungan apa antara yang satu dengan yang lain. mengapa ini terjadi ketika itu terjadi. Banyak hal yang dianalisis. Terakhir adalah tahap eveluasi. Pada tahap ini sebenarnya telah melewati tahap publikasi dan intervensi baru kemudian dievaluasi.
Pertama kita ketahui bahwa surveilans dilakukan terus menerus. Kedua kita ketahui prinsipnya. Maka jika pada suatu kesempatan kita ditanya tentang makna surveilans, jawabannya adalah kegiatan pengumpulan data yang dilakukan secara terus meneru meliputi kegiatan pengolahan data, interpretasi, publikasi, dan evaluasi. Selebihnya jika Anda dapatkan istilah dengan arti yang lebih keren maka itu hanya diksi bahasa saja sebab pada dasarnya itulah makna dari surveilans.
Tujuan dari surveilans adalah untuk mengetahui gambaran suatu kejadian penyakit kemudian menyebarluaskan informasi pada pihak terkait sehingga bisa dilakukan tindakan selanjutnya. Singkatnya demikian, ada gambaran hasil dari pengumpulan dan pengolahan data, lalu hasil itu di sebarluaskan (publikasi), dan ini penting untuk tindak lanjut oleh pihak terkait. Inilah yang dikenal dengan tujuan umum mengapa dilakukan surveilans. Sedangkan tujuan khusunya adalah penjabaran dari prinsip surveilans, yakni mengumpulkan data kesehatan, mengolah data data kesehatan tersebut, mempublikasikannya kepada pemegang kebijakan tersebut, melaksanakan kegiatan penanggulangan, dan publikasi hasil kegiatan untuk evaluasi.
Ada tujuan maka pasti ada manfaat, maka manfaat surveilans bisa kita nalarkan satu per satu dari tujuan umum dan khususnya.
Pertama untuk apa kita perlu melakukan surveilans? Jelas! Untuk tahu keadaan penyakit di masyarakat bukan? Setelah itu kita mau apa? Nah pertanyaan terakhir ini adalah manfaat surveilans pertama yakni untuk MENDETEKSI KEJADIAN PENYAKIT DI MASYARAKAT SEDINI MUNGKIN. BAIK ITU KLB, WABAH, ATAU EPIDEMI.
Misalkan ada kejadian KLB maka data-data yang dikumpulkan tadi berguna untuk apa? Inilah manfaat kedua surveilans yakni MENGETAHUI SEBERAPA BESAR MASALAH KESEHATAN YANG MENIMPA MASYARAKAT, SIAPA YANG DITIMPANYA, USIA BERAPA, JENIS KELAMIN APA, DAN DIMANA TEMPATNYA.
Tidak hanya orang saja yang bisa kita ketahui, dengan surveilans kita juga dapat mengetahui penularan penyakit oleh agen, sehingga manfaat ketiga adalah MENGETAHUI PERJALANAN PENYAKIT, FAKTOR RISIKO, dan PENYEBAB DARI PENYAKIT TERSEBUT.
Setelah tahu ada kejadian maka langkah selanjutnya apa? Ini manfaat kedua yakni MENENTUKAN TINDAKAN PENANGGULANGAN YANG EFEKTIF DAN EFFISIEN TERHADAP MASALAH TERSEBUT.
Terakhir, setelah dilakukan tindakan maka yang dilakukan adalah tindakan eveluasi. Inilah manfaat kelima surveilans secara rutin sehingga BISA MENGEVALUASI KEGIATAN YANG TELAH DILAKUKAN, APAKAH BERHASIL ATAU TIDAK.

Bagaimana? Semoga dengan membahasakan surveilans menjadi bahasa masyarakat biasa bisa mempermudah pemahaman. Jika Anda ingin tahu bahasa dewa (bahasa buku ajar surveilans) maka bisa melihat pada reperensi Dasar Surveilans Kesehatan Masyarakat karangan Pius Wiraman oleh Gramatama Publishing tahun cetak 2010. Atau buku-buku epidemiologi Prof. Sukidjo Notoadmodjo. Ganbate!!!!

Label:

diposting oleh Unknown @ Rabu, Juli 13, 2011   0 Komentar